.

Kamis, 17 Februari 2011

Ulama Salaf dalam Berbakti kepada Ibu

Dari Muhammad bin Sirin diriwayatkan bahwa ia
berkata:Pada masa pemerintahan Utsman bin Affan, harga pokok kurma mencapai
seribu dirham. Maka Usamah (beliau adalah Usamah bin Zaid bin Haritsah, orang
kesayangan Nabi kita Shalallahu alihi wassalam dan juga anak dari orang
kesayangan beliau. Ibu beliau adalah Ummu Aiman, orang yang merawat Rasulullah
dimasa kecilnya)mengambil dan menebang sebatang pokok kurma dan mencabut
umbutnya(yakni bagian di ujung pangkal kurma berwarna putih, berlemak berbentuk
seperti punuk unta, biasa dimakan bersama madu) lalu diberikannya kepada ibunya
untuk dimakan.Orang-orang bertanya:”Apa yang menyebabkan engkau melakukan hal
itu? padahal engkau tahu bahwa pokok kurma kini harganya mencapai seribu
dirham?” beliau menjawab:”Ibuku menghendakinya. Setiap ibuku menginginkan
sesuatu yang mampu kudapatkan, aku pasti memberikannya”.
Dari Abdullah bin Al-MUbarak diriwayatkan bahwa ia berkata:”Muhammad bin
Al-Munkadir pernah berkata:”Umar (yakni saudaranya) suatu malam melakukan
shalat, sementara aku memijit-mijit kaki ibuku.Aku tidak ingin kalau malamku
kugunakan seperti malamnya”

Dari Ibnu Aun diriwaytakan bahwa ia berkata:”Seorang lelaki datang menemui
Muhammad bin Sirin dirumah ibunya. ia bertanya:”Bagaimana keadaan Muhammad
dirumah ini?Apakah ia mengeluhkan sesuatu?”Orang-orang disitu menjwab:”Tidak
sama sekali! Demikianlah keadaannya bila berada dirumah ibunya”

Dari Hisyam bin Hissan, dari Hafsah binti Sirin diriwayatkan bahwa ia
berkata:”Muhammad, apabila menemui ibunya, tidak pernah berbicara dengannya,
dengan mengumbar omongan, demi menghormati ibunya tersebut”

Dari Ibnu Aun diriwayatkan bahwa ia berkata:”Suatu hari ibunya memanggil
beliau, namun beliau menyambut panggilan itu dengan suara yang lebih keras dari
suara ibunya. Maka beliau segera membebaskan dua orang budak”

Dari Hisyam bin Hasan diriwayatkan bahwa ia berkata:”Hudzail bin Hafshah
biasa mengumpulkan kayu bakar pada musim panas untuk dikuliti. Ia juga mengambil
bambu dan membelahnya.Hafshah (ibunya) berkata:”Aku tinggal mendapatkan enaknya
saja. Dan bila datang musim dingin, dia membawakan tungku dan meletakkannya
dibelakang punggungku, sementara aku sendiri berdiam di tempat shalatku.
Kemudian dia duduk, membakar kayu bakar yang sudah dikupas kulitnya berikut
bambu sehingga telah dibelah-belah untuk dijadikan bahan bakar sehingga asapnya
tidak mengganggu, tetapi bisa menghangatkan tubuhku.Demikianlah waktu berlaku
menurut kehendak Allah” Hafshah melanjutkan:”Sebenarnya ada yang bersedia
mencukupi kebutuhannya, kalau dia mau.”Ia melanjutkan lagi:”Dan kadangkala aku
ingin mendatanginya, lalu kukatakan kepada anakku itu:”Wahai anakku, kamu bisa
pulang dulu kerumah istrimu” Setelah itu aku memberitahukan kepada anakku itu
apa yang menjadi kebutuhannya, lalu aku membiarkannya”

Hafshah melanjutkan kisahnya:”Ketika anakku itu menjelang wafatnya, Allah
memberikan kepadanya kesabaran yang begitu tinggi, hanya saja aku merasakan
suatu ganjalan yang tidak bisa hilang” Ia melanjutkan:”Suatu malam aku membaca
ayat dalam surat An-Nahl berikut:

”Dan janganlah kamu tukar perjanjianmu dengan Allah dengan harga yang sedikit
(murah), sesungguhnya apa yang ada di sisi Allah, itulah yang lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui. Apa yang dari sisimu akan lenyap, dan apa yang ada disisi
Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang yang
sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”
(An-Nahl:95-96)
Aku terus mengulang-ulang ayat tersebut, hingga Allah
menghilangkan kegundahan dalam hatiku”

Hisyam berkata:”Beliau memiliki unta bersusu banyak dan segar. Hafshah
mengisahkan:”Dia pernah mengirimkan kepadaku susu perasan disuatu pagi. Aku
berkata:Hai, anakku, kamu tentu tahu bahwa aku sedang tidak bisa meminumnya, aku
sedang puasa”Dia menanggapi ucapanku:
”Wahai Ummu Hudzail, sesungguhnya susu
yang paling bagus adalah yang sempat bermalam di tetek unta. Kalau engkau mau,
silahkan beri orang yang kamu suka”

Dikutip dari:
Panduan Akhlak Salaf, hal:143-145, Abdul Aziz Nashir
Al-Jalil,At-Tibyan, Solo,September 2000.

Baca Yang Ini Juga Ya...



0 komentar:

Posting Komentar

Adab Berkomentar:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715)

  © Blogger template 'TotuliPink' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP  

;