.

Sabtu, 23 April 2011

Perayaan 21 April



المرسلة( ل. م. ن. ) تقول في رسالتها:
نحن كلُّ سنة يُقام عيد خاص يُسمى: “عيد الأم”، وهو في واحد وعشرين آذار، يحتفل فيه جميع الناس، فهل هذا حرام أو حلال؟
وعلينا الاحتفال به أم لا، وتقديم الهدايا؟
أفيدونا في ذلك مشكورين.

Pertanyaan, “Setiap tahun kami mengadakan perayaan yang disebut dengan hari ibu yang bertepatan dengan 21 April. Pada hari itu semua orang merayakannya? Apakah hal ini suatu hal yang halal ataukah haram? Bolehkah kami merayakannya dan memberi hadiah dalam rangka hari tersebut?”

فأجاب أستاذنا الشيخ محمد بن صالح العثيمين -رحمه الله-:

الجواب على ذلك:

أنَّ كلَّ الأعياد التي تخالف الأعياد الشَّرعية كلُّها أعيادُ بدع حَادثة، ما كانت معروفة في عهد السَّلف الصَّالح،

Jawaban Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin, “Semua perayaan yang menyelisihi perayaan yang diajarkan oleh syariat adalah perayaan yang status hukumnya adalah bid’ah dan sesuatu yang baru yang tidak dikenal di masa salaf shalih.

وربما يكون مَنشَؤها من غير المسلمين -أيضًا-؛ فيكون فيها مع البدعة، مشابهة أعداء الله -سبحانه وتعالى-.

Boleh jadi sebagian perayaan baru tersebut berasal dari non muslim. Jika demikian maka perayaan tersebut di samping bid’ah adalah tindakan menyerupai para musuh Allah (baca: orang-orang kafir).

والأعياد الشَّرعية معروفة عند أهل الإسلام؛ وهي: عيد الفطر، وعيد الأضحى، وعيد الأسبوع،

Perayaan yang diajarkan oleh syariat yang dikenal oleh umat Islam hanyalah ‘Idul Fitri, Idul Adha dan hari raya pekanan itulah hari Jumat.

وليس في الإسلام أعيادٌ سوى هذه الأعياد الثلاثة،

Tidak ada dalam Islam perayaan kecuali tiga hari perayaan di atas.

وكلُّ أعياد أُحدِثت سوى ذلك فإنها مردودة على محدثيها، وباطلة في شريعة الله -سبحانه وتعالى-؛

Semua bentuk perayaan baru yang diada-adakan selain tiga hal di atas adalah perayaan yang tertolak dan dinilai tidak ada dalam syariat Allah.

لقول النبي صلَّى الله عليه وسلَّم: ((مَنْ أحْدَثَ في أمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ))؛ أي: مردود عليه غير مقبول عند الله.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang mengada-ada amalan dalam agama kami ini yang bukan bagian darinya adalah amalan tertolak”. Yang dimaksud dengan tertolak adalah tidak diterima di sisi Allah.

وفي لفظٍ: ((مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرنَا فَهُوَ رَدٌّ)).

Dalam redaksi yang lain, “Siapa saja yang melakukan amalan yang tidak dituntunkan maka amalannya adalah amalan yang tertolak”.

وإذا تبيَّن ذلك؛ فإنَّه لا يجوز العيد الذي ذكرته السائلة -والذي سَمَّتهُ: “عيد الأم”- لا يجوز فيه إحداث شيء من شعائر العيد؛ كإظهار الفرح والسُّرور، وتقديم الهدايا، وما أشبه ذلك.

Jika keterangan di atas telah dipahami dengan baik maka perayaan yang disebutkan oleh penanya yang disebut dengan hari ibu adalah suatu hal yang tidak diperbolehkan. Oleh karena itu, pada hari itu tidak diperbolehkan menampakkan simbol-simbol hari raya semisal menampakkan rasa gembira dan bahagia dengan kedatangan hari tersebut, memberi hadiah dan semisalnya.

والواجب على المسلم أنْ يعتزَّ بدينه ويفتخِر به، وأن يقتصر على ما حدَّه الله ورسوله في هذا الدِّين القيِّم الذي ارتضاه الله -تعالى- لعباده، فلا يزيد فيه ولا ينقص منه.

Menjadi kewajiban setiap muslim untuk merasa bangga dengan ajaran agamanya dan mencukupkan diri dengan amalan yang telah ditentukan oleh Allah dan rasul-Nya dalam agama ini. Inilah agama yang diridhoi oleh Allah untuk hamba-hamba-Nya, tanpa mengurangi dan tanpa menambahi.

والذي ينبغي للمسلم -أيضًا- أنْ لا يكون إمَّعة يتْبَع كلَّ ناعِق؛ بل ينبغي أنْ تكون شخصيته بمقتضى شريعة الله -سبحانه وتعالى-، حتى يكون متبوعًا لا تابعًا، وحتى يكون أُسوة لا متأسيًا؛ لأن شريعة الله -والحمد لله- كاملة من جميع الوجوه؛

Sepatutnya seorang muslim bukanlah seorang yang hanya mengikuti ke mana angin bertiup namun seorang muslim hendaknya memiliki kepribadian yang jelas. Itulah kepribadian yang sesuai dengan syariat Allah. Dengan demikian seorang muslim adalah seorang yang diikuti bukan mengikuti, seorang yang diteladani bukan malah meneladani orang kafir. Sesungguhnya syariat Allah itu telah sempurna dari segala sisinya.

كما قال الله –تعالى-: ﴿الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلامَ دِينًا﴾.

Allah berfirman yang artinya, “Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kalian agama kalian, telah kulengkapi nikmat-nikmatku untuk kalian dan aku pun telah rela Islam sebagai agama kalian”.

والأمُّ أحقُّ مِن أنْ يُحتفل بها يومًا واحدًا في السَّنة؛ بل الأم لها الحقُّ على أولادها أن يرعوها وأن يعتنوا بها، وأن يقوموا بطاعتها -في غير معصية الله -عزَّ وجلَّ- في كلِّ زمان، وفي كلِّ مكان.
برنامج: (نورٌ على الدَّرب)

Seorang ibu itu tidaklah pantas jika hanya mendapatkan hadiah setahun sekali. Dalam Islam seorang ibu memiliki hak untuk dirawat dan diperhatikan oleh anak-anaknya serta ditaati semua perkataannya asalkan bukan berupa kemaksiatan sepanjang zaman di semua tempat”.

Sumber:

http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_7733.shtml

Catatan:
Di banyak negara hari ibu diperingati pata tanggal 21 April, berbeda dengan yang ada di Indonesia yang memperingatinya pada tanggal 22 Desember.

Baca Yang Ini Juga Ya...



0 komentar:

Posting Komentar

Adab Berkomentar:
Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu‘anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya:
“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara pula.
Allah meridhai kalian bila kalian:
(1) Hanya beribadah kepada Allah semata, (2) Dan tidak mempersekutukan-Nya, (3) Serta berpegang teguh pada tali (agama) Allah seluruhnya, dan janganlah kalian berpecah belah
Dan Allah membenci kalian bila kalian:
(1) Suka qiila wa qaala (berkata tanpa dasar), (2) Banyak bertanya (yang tidak berfaedah), (3) Menyia-nyiakan harta”
(HR. Muslim no. 1715)

  © Blogger template 'TotuliPink' by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP  

;